Beranda / Kesehatan / Kasus campak melonjak di Indonesia, dampak masyarakat percaya narasi antivaksin?

Kasus campak melonjak di Indonesia, dampak masyarakat percaya narasi antivaksin?

Seorang petugas kesehatan memberikan vaksin campak kepada seorang siswa sekolah dasar selama peluncuran program pemeriksaan kesehatan gratis untuk anak-anak di Jakarta pada 4 Agustus 2025Informasi artikel

Turunnya cakupan penerima vaksin campak diyakini epidemiolog sebagai salah satu penyebab merebaknya penyakit ini selama beberapa tahun terakhir. Dampak sebagian masyarakat yang percaya narasi antivaksin?

Di Indonesia, sebanyak 72 kematian terjadi akibat campak sepanjang 2025-2026, menurut Kementerian Kesehatan.

Pada tahun lalu, menurut Kemenkes, kasus suspek campak di Indonesia meningkat pesat, yaitu mencapai 64.822, meningkat lebih dari dua lipat dari tahunnya.

Dan tahun ini, temuan Kemenkes menyebutkan, sampai minggu kedelapan, jumlah kasus suspek mencapai 10.453 dengan kasus konfirmasi sebanyak 8.372. Adapun korban meninggal dilaporkan sebanyak enam oran

Sebagian besar kematian akibat campak itu adalah balita tanpa riwayat imunisasi campak.

Para ahli meyakini turunnya cakupan penerima vaksin campak merupakan salah satu penyebab merebaknya penyakit ini.

Kemenkes menyebut banyak faktor yang mempengaruhi merosotnya angka imunisasi campak.

Dua penyebab utamanya adalah, pertama, efek pandemi yang mengakibatkan gangguan pemberian vaksin.

Kedua, kekhawatiran orang tua terkait keamanan vaksin yang diduga memicu penyakit lainnya.

Sebuah riset menyebutkan, saat penyakit campak sudah jarang terjadi selama bertahun-tahun, membuat orang akhirnya lebih fokus pada risiko vaksinasi daripada risiko infeksinya.

Hal ini, lanjut riset tersebut, kemudian menggerus kepercayaan publik yang menyumbang penurunan cakupan vaksinasi.

Masalahnya, menurut penelitian tersebut, dampak dari menurunnya cakupan imunisasi ini tidak langsung dirasakan memang.

Berkurangnya tingkat vaksinasi rutin sebesar 25% disebut berpotensi memicu campak sebagai endemik kembali dalam 5-10 tahun ke depan.

Bagaimanapun, seorang ahli penyakit menular menjelaskan, cakupan imunisasi sangat berpengaruh dalam hal ini.

Musababnya, cakupan imunisasi itu memiliki dampak pada kekebalan tubuh, yang kemudian berfungsi juga membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity.

“Ketika cakupannya ada di bawah level yang sesuai, maka kekebalan populasinya itu tidak cukup untuk bisa mencegah terjadinya transmisi sehingga penyebaran terjadi,” kata epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Riris Andono Ahmad.

Menanggapi sikap sebagian anggota masyarakat yang enggan vaksin campak, Kemenkes menjamin semuanya “telah melalui proses evaluasi ketat terkait keamanan, mutu, dan khasiatnya”.

Masyarakat juga diminta “tidak mudah mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait vaksin”.

Apa rekomendasi para ahli penyakit menular ketika dihadapkan merebaknya campak dan berkurangnya cakupan imunisasi? Sejauhmana kesiapan pemerintah mengantisipasi liburan lebaran dan potensi penularan?

BBC News Indonesia mewawancarai para ahli penyakit menular hingga petugas kesehatan di tingkat lokal.

Cerita orang tua yang takut anaknya divaksin

Zahrotut Taubah (35), warga Dusun Gang Asam, Desa Guluk-guluk, Sumenep, Jawa Timur, mengaku anaknya—berusia empat tahun—belum menjalani imunisasi campak.

Meski ia sebenarnya khawatir ketika angka penyebaran campak sempat naik pada akhir 2025.

“Karena orang banyak ngomong sama saya kalau divaksin itu anaknya nanti panas bisa meninggal. Katanya banyak anak-anak yang meninggal gara-gara divaksin. Jadi, takut. Kalau vaksin juga harus persetujuan suami. Kalau saya sendiri, terus nanti anak panas, saya yang dimarahi suami,” ujar Zahrotut.

Dokter anak di Denpasar, Bali, dr. Putu Siska Suryaningsih juga menemukan pasien balita yang dirawatnya ternyata belum menerima vaksin. Kondisinya saat itu demam, keluar ruam, dan mulai ada komplikasi paru-paru.

“Saat ditanya, orang tuanya merasa dua anak sebelumnya tidak vaksin campak, tidak kena. Karena itu, anak ketiganya ini juga tidak imunisasi,” kata Siska.

Kesadaran yang berkurang, lanjut Siska, karena ada masa paparan penyakit campak terbilang minim turut berpengaruh pada cakupan imunisasi.

Di sisi lain, tingkat kepercayaan publik terhadap vaksin juga merupakan masalah.

Seorang petugas kesehatan memberikan vaksin campak kepada seorang anak selama imunisasi simultan di Surabaya pada 15 September 2025
Keterangan gambar, Seorang petugas kesehatan memberikan vaksin campak kepada seorang anak selama imunisasi simultan di Surabaya pada 15 September 2025

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Rizka Andalucia saat jumpa pers pada Jumat (06/02) berkata penurunan tingkat kepercayaan publik yang berpengaruh pada cakupan vaksinasi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di tingkat global.

Dalam Journal of the Pediatric Infectious Diseases Society, disebutkan penurunan cakupan vaksinasi secara global menjadi masalah kesehatan masyarakat yang semakin mengkhawatirkan.

Semestinya, cakupan vaksinasi sebesar 95% atau lebih dengan dua dosis vaksin campak diperlukan untuk melindungi komunitas dari wabah campak.

Saat ini, tingkat cakupan global untuk dosis pertama vaksin campak adalah 83%, dan dosis kedua hanya 74%.

Merujuk data dari Kementerian Kesehatan, cakupan imunisasi campak-rubela dosis pertama di Indonesia tercatat 82% pada 2025. Sementara itu, cakupan dosis keduanya sebanyak 77,6%.

Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Riris Andono Ahmad menjelaskan cakupan imunisasi sangat berpengaruh karena punya dampak pada kekebalan tubuh yang berfungsi juga membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity.

“Ketika cakupannya ada di bawah level yang sesuai, maka kekebalan populasinya itu tidak cukup untuk bisa mencegah terjadinya transmisi sehingga penyebaran terjadi,” kata Riris.

www.bbc.com/indonesia/articles/cqj9px2dwxxo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *